Sabtu, 08 November 2014

Kepada Luka, Tentang Terima Kasih yang Datang Setelahnya.

ketika matahari bertarung dengan angin di awal musim gugur, anak-anak sepertinya masih menikmati kehangatan pasir yang sengaja ditumpahkan di arena bermain sebuah komplek apartemen ini. Entah dari mana pasir itu berasal. Yang jelas aku tahu pasir itu tidak berasal puluhan kilometer dari tempat di mana kamu sekarang berada.
Ini bukan kiriman kerinduan tentang masa-masa yang pernah terlalu menyenangkan untuk ditulis. Ini juga bukan kiriman kekecewaan untuk masa-masa yang pernah terlalu menyedihkan untuk dilembarkan. Ini hanya sapaan dari masa lalu tentang semua yang hadir
setelahnya. Dan aku tahu, kamu tidak pernah menginginkannya lagi, begitu pula dengan aku. Maka biarkan kata-kata ini meluncur lewat surat yang tidak akan pernah kamu baca, karena kita berbahagia untuk tidak saling mengetahui.
Di perbatasan dua kota aku meninggalkanmu bukan dengan perasaan tenang. Sisa-sisa debu yang menyaksikan percakapan terakhir kita mungkin kini sudah berbaur bersama roda-roda empat kota Bandung yang jumlahnya terus bertambah. Dan aku yakin tak satu pun dari mereka yang ingat rangkaian kata macam apa yang mengakhiri cerita kita saat itu. Aku menyukai cara mereka, maka itu pula yang aku lakukan saat ini. Aku berlari bersama angin meninggalkan riuh memori tentang kita yang tersisa di sudut-sudut toko buku, kursi-kursi Trans Metro Bandung, atau retakan aspal di sepanjang jalan Soekarno-Hatta.
Aku tidak menyimpan semua potongan kenangan dengan rapi, semua sedih dan senang bercampur tak tertata pada album yang aku kira sudah lama sekali tertutup. Tapi hari ini ketika daun mulai menguning di dahan yang kering, angin membuka lembaran itu lagi, membongkar rekatan-rekatan yang terlalu lama dibiarkan, mencabik potongan itu sedikit kasar hingga satu gambar terlepas. Dan setelahnya semua gambar yang sempat tersimpan seperti berpendar bersama cahaya lampu taman yang remang.
Seperti anak kecil yang tengah mengumpulkan gelembung sabun yang terhempas dalam satu kali tiupan, aku meraih semua memori yang tiba-tiba terbang berantakan. Aku berusaha mengumpulkannya dalam satu kali raihan, tapi kemudian aku selalu gagal di percobaan kedua dan ketiga. Sampai akhirnya aku hanya bisa menyaksikan gelembung-gelembung kenangan itu menjauh, memilih hidup di antara udara lepas yang bisa menggiringnya kembali kepadaku kapan saja dan dimana saja. Sepertinya mereka tahu bahwa ketika mereka terperangkap di tangaku, tak lama lagi aku akan menyentuhkan ujung jariku di lapisannya yang tipis, memecahkannya hingga hilang agar tak ada lagi yang perlu diingat tentang kita.
Mengingatmu adalah bagian yang selalu aku lupakan, meskipun aku tahu ketika aku sedang melakukannya aku justru sedang menghadirkan ingatan itu lagi. Berapa kali aku mengulanginya dengan rasa tidak suka sampai semuanya terasa sangat biasa. Dan kamu memilih untuk menghilang dari semua ruang yang mungkin aku masuki, menggambar pola yang terputus pada sebuah titik baru yang tidak aku pilih, tenggelam bersama waktu yang terus menyibukanku untuk tidak melihat ke arahmu lagi. Kita menggambar dua garis sejajar yang terus bergerak lurus, dan kita tahu kita tidak menginginkan pertemuan lagi.
Aku tahu kita terlalu muda saat itu. Kita lebih suka bermain-main dengan hidup. Menggambar mimpi dari ujung jari, mengarahkannya pada apapun yang kita sukai secara spontan. Dan apakah kamu merasa beruntung ujung jari itu sempat mengarahkanmu kepadaku? Aku tidak ingin mendengar jawabannya, sungguh. Aku hanya ingin kamu mengingat bagaimana kita selalu antusias menerima nilai ujian, karena setelah itu kita tahu akan ada salah satu dari kita yang sanggup tertawa dan ditertawakan di saat yang sama. Aku selalu cemburu pada coretan rumus yang kamu tulis berantakan, dan kamu selalu cemburu pada kata-kata yang berhasil aku rangkai.
Kini setelah lebih dari ribuan hari, setelah apa yang terjadi untuk sebuah kekecewaan besar, aku tahu bahwa aku tidak pernah memaafkanmu sepenuhnya. Tapi biarlah itu menjadi dosaku sendiri. Karena maaf bukanlah kata yang pantas untuk menebus kesalahan ketika luka menjadi bagian yang selalu tersisa dan berbekas. Namun, seperti pohon yang tengah aku pandangi saat ini, selalu ada siklus yang membawanya tetap hidup. Siklus di mana dia harus sesaat meranggas, merasa kering, terluka oleh panas yang begitu menghidupkan, sampai saat di mana dingin menggerogoti, dan salju tak berhenti menderas. Namun setelah itu ketika musim semi datang, pucuk-pucuk hijau adalah bayaran yang pantas atas kuning kecoklatan yang berguguran. Di saat itulah aku menemukan bungaku yang lebih indah.
Aku tidak peduli bagaimana kabarmu di malam itu dan malam-malam setelahnya ketika semuanya berakhir, karena semua implikasi dunia adalah hasil yang kita pilih sendiri sebabnya. Seperti merangkai domino, kau boleh manatanya meliuk tidak karuan, berbaris, atau sedikit bersinggungan. Namun satu hal yang perlu kamu ingat, satu derajat saja akan menentukan bagaimana rangkaian itu akan runtuh. Dan aku tidak pernah menyangka aku harus berterima kasih padamu atas itu. Atas satu derajat yang salah, yang menggerakanku keluar dari jalur runtuhan kepingan lainnya. Kini ketika aku terhempas jauh, aku justru berhasil menggerakan kepinganku sendiri, tanpa menunggu.
Sebuah pesawat terbang melintas di udara, mengingatkanku tentang jarak yang panjang dan waktu yang tak lagi sama. Jika saat ini aku menyapamu dengan ucapan manis, apakah semuanya menjadi lebih baik? Aku rasa tidak dan aku memang tidak akan menginginkannya. Aku yakin semua pertemuan itu penting, tapi ‘luka’ berhasil mengajarkanku bahwa semua perpisahan juga penting. Karna tanpa sebuah ujung kita tidak akan menemukan permulaan baru. Pada selembar kertas yang masih kosong, aku menuliskan sebuah nama dengan tinta merah. Aku merindukannya meski aku tahu ini tidak akan membuatnya tahu. Tapi aku tahu kamu pasti tahu bahwa itu bukan lagi namamu.
Dan untuk semua hal yang telah banyak berubah,
terima kasih.

Tidak ada komentar: