ketika matahari bertarung dengan angin
di awal musim gugur, anak-anak sepertinya masih menikmati kehangatan
pasir yang sengaja ditumpahkan di arena bermain sebuah komplek apartemen
ini. Entah dari mana pasir itu berasal. Yang jelas aku tahu pasir itu
tidak berasal puluhan kilometer dari tempat di mana kamu sekarang
berada.
Ini bukan kiriman kerinduan tentang
masa-masa yang pernah terlalu menyenangkan untuk ditulis. Ini juga bukan
kiriman kekecewaan untuk masa-masa yang pernah terlalu menyedihkan
untuk dilembarkan. Ini hanya sapaan dari masa lalu tentang semua yang
hadir
setelahnya. Dan aku tahu, kamu tidak pernah menginginkannya lagi,
begitu pula dengan aku. Maka biarkan kata-kata ini meluncur lewat surat
yang tidak akan pernah kamu baca, karena kita berbahagia untuk tidak
saling mengetahui.
Di perbatasan dua kota aku
meninggalkanmu bukan dengan perasaan tenang. Sisa-sisa debu yang
menyaksikan percakapan terakhir kita mungkin kini sudah berbaur bersama
roda-roda empat kota Bandung yang jumlahnya terus bertambah. Dan aku
yakin tak satu pun dari mereka yang ingat rangkaian kata macam apa yang
mengakhiri cerita kita saat itu. Aku menyukai cara mereka, maka itu pula
yang aku lakukan saat ini. Aku berlari bersama angin meninggalkan riuh
memori tentang kita yang tersisa di sudut-sudut toko buku, kursi-kursi
Trans Metro Bandung, atau retakan aspal di sepanjang jalan
Soekarno-Hatta.
Aku tidak menyimpan semua potongan
kenangan dengan rapi, semua sedih dan senang bercampur tak tertata pada
album yang aku kira sudah lama sekali tertutup. Tapi hari ini ketika
daun mulai menguning di dahan yang kering, angin membuka lembaran itu
lagi, membongkar rekatan-rekatan yang terlalu lama dibiarkan, mencabik
potongan itu sedikit kasar hingga satu gambar terlepas. Dan setelahnya
semua gambar yang sempat tersimpan seperti berpendar bersama cahaya
lampu taman yang remang.
Seperti anak kecil yang tengah
mengumpulkan gelembung sabun yang terhempas dalam satu kali tiupan, aku
meraih semua memori yang tiba-tiba terbang berantakan. Aku berusaha
mengumpulkannya dalam satu kali raihan, tapi kemudian aku selalu gagal
di percobaan kedua dan ketiga. Sampai akhirnya aku hanya bisa
menyaksikan gelembung-gelembung kenangan itu menjauh, memilih hidup di
antara udara lepas yang bisa menggiringnya kembali kepadaku kapan saja
dan dimana saja. Sepertinya mereka tahu bahwa ketika mereka terperangkap
di tangaku, tak lama lagi aku akan menyentuhkan ujung jariku di
lapisannya yang tipis, memecahkannya hingga hilang agar tak ada lagi
yang perlu diingat tentang kita.
Mengingatmu adalah bagian yang selalu
aku lupakan, meskipun aku tahu ketika aku sedang melakukannya aku justru
sedang menghadirkan ingatan itu lagi. Berapa kali aku mengulanginya
dengan rasa tidak suka sampai semuanya terasa sangat biasa. Dan kamu
memilih untuk menghilang dari semua ruang yang mungkin aku masuki,
menggambar pola yang terputus pada sebuah titik baru yang tidak aku
pilih, tenggelam bersama waktu yang terus menyibukanku untuk tidak
melihat ke arahmu lagi. Kita menggambar dua garis sejajar yang terus
bergerak lurus, dan kita tahu kita tidak menginginkan pertemuan lagi.
Aku tahu kita terlalu muda saat itu.
Kita lebih suka bermain-main dengan hidup. Menggambar mimpi dari ujung
jari, mengarahkannya pada apapun yang kita sukai secara spontan. Dan
apakah kamu merasa beruntung ujung jari itu sempat mengarahkanmu
kepadaku? Aku tidak ingin mendengar jawabannya, sungguh. Aku hanya ingin
kamu mengingat bagaimana kita selalu antusias menerima nilai ujian,
karena setelah itu kita tahu akan ada salah satu dari kita yang sanggup
tertawa dan ditertawakan di saat yang sama. Aku selalu cemburu pada
coretan rumus yang kamu tulis berantakan, dan kamu selalu cemburu pada
kata-kata yang berhasil aku rangkai.
Kini setelah lebih dari ribuan hari,
setelah apa yang terjadi untuk sebuah kekecewaan besar, aku tahu bahwa
aku tidak pernah memaafkanmu sepenuhnya. Tapi biarlah itu menjadi dosaku
sendiri. Karena maaf bukanlah kata yang pantas untuk menebus kesalahan
ketika luka menjadi bagian yang selalu tersisa dan berbekas. Namun,
seperti pohon yang tengah aku pandangi saat ini, selalu ada siklus yang
membawanya tetap hidup. Siklus di mana dia harus sesaat meranggas,
merasa kering, terluka oleh panas yang begitu menghidupkan, sampai saat
di mana dingin menggerogoti, dan salju tak berhenti menderas. Namun
setelah itu ketika musim semi datang, pucuk-pucuk hijau adalah bayaran
yang pantas atas kuning kecoklatan yang berguguran. Di saat itulah aku
menemukan bungaku yang lebih indah.
Aku tidak peduli bagaimana kabarmu di
malam itu dan malam-malam setelahnya ketika semuanya berakhir, karena
semua implikasi dunia adalah hasil yang kita pilih sendiri sebabnya.
Seperti merangkai domino, kau boleh manatanya meliuk tidak karuan,
berbaris, atau sedikit bersinggungan. Namun satu hal yang perlu kamu
ingat, satu derajat saja akan menentukan bagaimana rangkaian itu akan
runtuh. Dan aku tidak pernah menyangka aku harus berterima kasih padamu
atas itu. Atas satu derajat yang salah, yang menggerakanku keluar dari
jalur runtuhan kepingan lainnya. Kini ketika aku terhempas jauh, aku
justru berhasil menggerakan kepinganku sendiri, tanpa menunggu.
Sebuah pesawat terbang melintas di
udara, mengingatkanku tentang jarak yang panjang dan waktu yang tak lagi
sama. Jika saat ini aku menyapamu dengan ucapan manis, apakah semuanya
menjadi lebih baik? Aku rasa tidak dan aku memang tidak akan
menginginkannya. Aku yakin semua pertemuan itu penting, tapi ‘luka’
berhasil mengajarkanku bahwa semua perpisahan juga penting. Karna tanpa
sebuah ujung kita tidak akan menemukan permulaan baru. Pada selembar
kertas yang masih kosong, aku menuliskan sebuah nama dengan tinta merah.
Aku merindukannya meski aku tahu ini tidak akan membuatnya tahu. Tapi
aku tahu kamu pasti tahu bahwa itu bukan lagi namamu.
Dan untuk semua hal yang telah banyak berubah,
terima kasih.
terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar