Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks
pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di Jawa Barat serta
sekolah Bapak/Ibu secara khusus?
Pemikiran
Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang pendidikan yang memerdekakan murid memiliki
relevansi yang kuat dengan peran saya sebagai pendidik. Sebagai pendidik, saya
bertanggung jawab untuk membimbing siswa menuju pemahaman diri yang lebih baik,
sertamembantu mereka mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Antar lain:
1. Fokus
pada Kebutuhan dan Minat Anak
Pemikiran
KHD menkankan bahwa pendidikan harus berpusat pada peserta didik. Ini berarti
memahami kebutuhan dan minat anak, serta memberikan mereka kesempatan untuk
berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
2. Peran
sebagai Fasilitator dan Pembimbing
Sebagai
pendidik, saya tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai
fasilitator, motivator, dan pembimbing. Saya harus menghormati anak sebagai
subjek yang aktif dalam proses pembelajaran.
3. Menghormati
dan Memuliakan Anak
Relevansi
pemikiran KHD bahwa pendidikan harus berhamba pada anak juga memiliki makna
yang lebih luas. Seorang guru harus memiliki rasa hormat dan memuliakan anak,
sehingga tumbuh perasaan senang dan bahagia dalam diri mereka.
Kesimpulan:
dengan memahami pemikiran KHD, saya dapat mengarahkan pendidikan dengan lebih
bijaksana, memperhatikan kebutuhan dan potensi anak, serta membantu mereka
tumbuh menjadi individu yang berdaya dan berakhlak mulia.
Ki
Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia yang hidup pada abad ke 18, pernah
menjabat sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia (1945). Beliau menempatkan
“Tut Wuri Handayani” menjadi semboyan pendidikan, yang artinya “Dari belakang,
seorang guru harus bisa memberikan dorongan pada siswa”. Selanjutnya, “Ing
Madya Mangun Karsa, yang artinya di tengah memberi/membangun semangat. Seorang guru
harus membersamai siswanya untuk memantau gerak tumbuh mereka serta membimbing
dan meberi semangat”. Semboyan ketiga adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya
seorang uru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya, baik sikap maupun pola
pikirnya. Dengan demikian, guru haruslah terlebih dahulu mempersiapkan diri
menjadi pribadi yang mampu menajdi sosok panutan, yang akan dicontoh oleh anak
didiknya.
Pertanyaannya, apakah kita sudah
mengenali diri dan peran sebagai pendidik?
Jawabannya
tergantung pada keberanian kita untuk menjawab secara jujur dengan hati nurani.
Siapakah saya di mata siswa? Apakah saya diberi predikat sebagai guru yang
berempati atau malah cuek? Apakah saya memberi ruang bagi siswa untuk
memunculkan ide dan kreaivitas mereka atau malah membungkam dengan ucapan yang
memojokkan? Pernahkah saya memberi kesempatan bagi siswa untuk menjelaskan apa
alasan mereka tidak memegang komitmen atau malah mendesak dan menyalahkan?
Apa peran saya sebagai guru?
Memulai hari dengan semangat, ingin segera bertemu dengan siswa mencari tau bagaimana kemajuan yang mereka peroleh setelah mengikuti pembelajaran, merindukan wajah-wajah penuh harap dengan ilmu yang kita curahkan. Apapun alasan kita untuk bersegera ke sekolah, akan membawa efek luar biasa terhadap semangat belajar siswa. Energi positif yang kita pancarkan lewat bahasa tubh, wajah yang bersahabat, mampu membuang jauh-jauh rasa malas siswa untuk berangkat ke sekolah. Maka jadikan kita di posisi itu.
Apa saja perubahan
yang Bapak/Ibu lihat pada murid-murid Bapak/Ibu setelah mempelajari materi ini?
Setelah
mempelajari modul ini, saya berharap siswa/i saya memiliki motivasi dan
antusiasme dalam mengikuti proses belajar di kelas. Saya berharap siswa merasa rindu
untuk datang ke sekolah dan merasa senang saat berada di sekolah. Dan paling
utama adalah melihat perubahan positif dalam karakter dan budi pekerti siswa.
Daftar pusaka:
Rafae;, Simon P. (2022). Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi