Jumat, 09 Agustus 2024

Lembar Kerja Modul 1.1 Tugas 3

 

Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di Jawa Barat serta sekolah Bapak/Ibu secara khusus?

Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang pendidikan yang memerdekakan murid memiliki relevansi yang kuat dengan peran saya sebagai pendidik. Sebagai pendidik, saya bertanggung jawab untuk membimbing siswa menuju pemahaman diri yang lebih baik, sertamembantu mereka mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Antar lain:

1.      Fokus pada Kebutuhan dan Minat Anak

Pemikiran KHD menkankan bahwa pendidikan harus berpusat pada peserta didik. Ini berarti memahami kebutuhan dan minat anak, serta memberikan mereka kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.

2.      Peran sebagai Fasilitator dan Pembimbing

Sebagai pendidik, saya tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing. Saya harus menghormati anak sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran.

3.      Menghormati dan Memuliakan Anak

Relevansi pemikiran KHD bahwa pendidikan harus berhamba pada anak juga memiliki makna yang lebih luas. Seorang guru harus memiliki rasa hormat dan memuliakan anak, sehingga tumbuh perasaan senang dan bahagia dalam diri mereka.

Kesimpulan: dengan memahami pemikiran KHD, saya dapat mengarahkan pendidikan dengan lebih bijaksana, memperhatikan kebutuhan dan potensi anak, serta membantu mereka tumbuh menjadi individu yang berdaya dan berakhlak mulia.

 Apa saja saja yang Bapak/Ibu lihat pada diri sendiri sebagai seorang pendidik setelah mempelajari materi ini?

Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia yang hidup pada abad ke 18, pernah menjabat sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia (1945). Beliau menempatkan “Tut Wuri Handayani” menjadi semboyan pendidikan, yang artinya “Dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan pada siswa”. Selanjutnya, “Ing Madya Mangun Karsa, yang artinya di tengah memberi/membangun semangat. Seorang guru harus membersamai siswanya untuk memantau gerak tumbuh mereka serta membimbing dan meberi semangat”. Semboyan ketiga adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya seorang uru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya, baik sikap maupun pola pikirnya. Dengan demikian, guru haruslah terlebih dahulu mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu menajdi sosok panutan, yang akan dicontoh oleh anak didiknya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah mengenali diri dan peran sebagai pendidik?

Jawabannya tergantung pada keberanian kita untuk menjawab secara jujur dengan hati nurani. Siapakah saya di mata siswa? Apakah saya diberi predikat sebagai guru yang berempati atau malah cuek? Apakah saya memberi ruang bagi siswa untuk memunculkan ide dan kreaivitas mereka atau malah membungkam dengan ucapan yang memojokkan? Pernahkah saya memberi kesempatan bagi siswa untuk menjelaskan apa alasan mereka tidak memegang komitmen atau malah mendesak dan menyalahkan?

Apa peran saya sebagai guru?

Memulai hari dengan semangat, ingin segera bertemu dengan siswa mencari tau bagaimana kemajuan yang mereka peroleh setelah mengikuti pembelajaran, merindukan wajah-wajah penuh harap dengan ilmu yang kita curahkan. Apapun alasan kita untuk bersegera ke sekolah, akan membawa efek luar biasa terhadap semangat belajar siswa. Energi positif yang kita pancarkan lewat bahasa tubh, wajah yang bersahabat, mampu membuang jauh-jauh rasa malas siswa untuk berangkat ke sekolah. Maka jadikan kita di posisi itu.


Apa saja perubahan yang Bapak/Ibu lihat pada murid-murid Bapak/Ibu setelah mempelajari materi ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya berharap siswa/i saya memiliki motivasi dan antusiasme dalam mengikuti proses belajar di kelas. Saya berharap siswa merasa rindu untuk datang ke sekolah dan merasa senang saat berada di sekolah. Dan paling utama adalah melihat perubahan positif dalam karakter dan budi pekerti siswa.


Daftar pusaka:

Rafae;, Simon P. (2022). Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi