Dear Kamu yang Pernah Kukira Akan Menjadi Masa Depan,
Semua berawal dari kisah yang kukira
hanya pantas kita sebut persahabatan. Kala satu persatu kawan mulai
mencipta jarak karena rutinitas yang kian memadat, kau hadir dengan
kehangatan yang tak mungkin kuelakkan.
Semua bermula dari sikapmu yang kukira hanya cukup kita sebut pertolongan, representasi kebaikan hatimu menambal payahnya manajemen diriku menyelesaikan tumpukan kewajiban.
Semua bermula dari sikapmu yang kukira hanya cukup kita sebut pertolongan, representasi kebaikan hatimu menambal payahnya manajemen diriku menyelesaikan tumpukan kewajiban.
Semua berjalan begitu saja, menimbulkan
kenyamanan. Dalam hitungan tahun, bukan lagi sekedar bulan. Begitu saja?
Ah benarkah begitu? Atau kenyamanan itu sengaja kau ciptakan?
Yang kutahu, ketekunan dalam pendekatan
itu menjelma sebagai bayang konsistensi pengorbanan. Mengubah
ketidakpedulianku menjadi ragu, sampai yakin bahwa kau memang dikirim
untuk menjadi masa depan…
Iya kukira
