Jumat, 17 Oktober 2014

Kepada yang Tak Akan Menjadi Masa Depan, Tentang Pengakuan Akan Sebuah Kebodohan


Dear Kamu yang Pernah Kukira Akan Menjadi Masa Depan,
Semua berawal dari kisah yang kukira hanya pantas kita sebut persahabatan. Kala satu persatu kawan mulai mencipta jarak karena rutinitas yang kian memadat, kau hadir dengan kehangatan yang tak mungkin kuelakkan.
Semua bermula dari sikapmu yang kukira hanya cukup kita sebut pertolongan, representasi kebaikan hatimu menambal payahnya manajemen diriku menyelesaikan tumpukan kewajiban.
Semua berjalan begitu saja, menimbulkan kenyamanan. Dalam hitungan tahun, bukan lagi sekedar bulan. Begitu saja? Ah benarkah begitu? Atau kenyamanan itu sengaja kau ciptakan?
Yang kutahu, ketekunan dalam pendekatan itu menjelma sebagai bayang konsistensi pengorbanan. Mengubah ketidakpedulianku menjadi ragu, sampai yakin bahwa kau memang dikirim untuk menjadi masa depan…
Iya kukira